Jajaran 10 Pemain Asia Terbaik Sepanjang Masa

Jajaran 10 Pemain Asia Terbaik Sepanjang Masa

Liga CacingBerita Bola –  Asia kerap dipandang sebelah mata di kancah sepakbola internsional. Tim-tim asal Negeri Kuning memang kurang superior di turnamen berskala Internasional. Meski begitu, ada berbagai pemain yang sukses harumkan nama Asia di tingkat dunia.

Meski level prestasi yang ditorehkan pemain bersama Timnas masih mentok di level domestik, mereka masih mampu memberikan prestasi secara tim di level klub. Beberapa dari mereka bahkan mampu catatkan hasil impresif bersama klubnya masing-masing. Pun jika tak memberikan kontribusi berupa gelar, peran mereka bagi tim yang dibela terbilang begitu masif.

Menilik dari daftar. Beberapa Negara macam Jepang, Korea Selatan hingga Australia menjadi Negara penghasil bibit terbaik di kawasan Asia lantaran level para pemain mereka sudah sejajar dengan para pemain top asal Eropa maupun Amerika Latin.

Siapa saja mereka? Ligacacing sudah memberikan 10 daftar lengkap pemain Asia Terbaik sepanjang masa. Berikut daftarnya.

Baca Juga:

  1. Park Ji-sung

Suka atau tidak, Park Ji-sung merupakan salah satu pemain Asia tersukses yang pernah merumput di Eropa. Bersama PSV Eindhoven dan Manchester United, Park mampu catatkan sederet prestasi bersama dua klub tersebut.

Di PSV, ia sukses membantu klub asal Einhoven mendulang sepasang gelar Eredivisie, satu Johan Cruyff Shield dan satu KNVB Cup. Di United, namanya tercatat sebagai pemain Asia pertama yang menjuarai Liga Champions, meraih empat gelar Premier League, tiga Piala FA, empat Community Shield dan satu gelar Piala Dunia Antar Klub

  • Hidetoshi Nakata

Nakata mungkin bukanlah pemain Asia yang pertama kali merumput di Eropa. Namun namanya seakan menjadi gerbong pembuka eksoduks pemain Asia ke Eropa. Sebagai pemain prestasi Nakata boleh dibilang tak terlalu mentereng bersama klub yang ia bela. Namun namanya hadir kala Roma menjuarai Scudetto 2001 dan menjuarai Coppa Italia 2001-02 bersama Parma.

Di level Timnas, Nakata sukses membawa Jepang menjuarai Piala Kirin 1997, Dynasty Cup setahun berselang dan menjadi Runner Up Piala Konfederasi 2001.

  • Tim Cahill

Nama Tim Cahill dan Premier League begitu amat melekat. Ia sukses menjadi pembeda di lini tengah Everton. Tak jarang, pemain asal Australia memberikan berbagai gol berkelas bagi tim asal Merseyside itu. Nama Cahill sendiri memang lumayan mencuri perhatian kala ia membela Millwall dan mengantarkan tim tersebut menjadi Runner Up Piala FA 2003-04 lalu.

Ia sempat malang melintang membela berbagai klub dan mendulang sederet prestasi di level domestik. Di Timnas, Cahill sempat mengantarkan Australia berlaga di empat Piala Dunia secara beruntun yakni di tahun 2006, 2010, 2014 dan 2018 lalu.

  • Son Heung-min

Saat ini, tak ada pemain Asia yang melebihi kemampuan Son Heung-min. peraih Puskas Award 2020 mamu buktikan diri sebagai pemain terbaik lewat konsistensi yang ia lakukan bersama tim-tim yang pernah ia bela.

Bersama Timnas, Son menjadi senjata mematikan Korea Selatan. Sejauh ini, pemain yang kini memperkuat Tottenham Hotspur memang belum memberikan trofi bergengsi di level tim senior. Mengingat usianya yang masih muda, bukan tak mungkin prestasinya bersama Negeri Gingseng hanya tinggal menunggu waktu.

  • Majed Abdullah

Majed Abdullah boleh dibilang sebagai permata Arab Saudi.  21 tahun karir sepakbolanya dihabiskan bersama Al-Nassr FC. Di klub tersebut, ia mampu membukukan 260 gol dari 240 penampilan. Di level Timnas, Abdullah mengoreksi 71 gol dari 116 pemampilan bersama Arab Saudi.

Di level klub, ia pernah meraih empat gelar Saudi Premier League, empat Piala Saudi dan sederet prestasi lain. Sementara di level timnas, the Green pernah diantar menjuarai Piala Asia 1984 dan 1988. Ia juga pernah mengantarkan Arab Saudi mentas di Piala Dunia 1994.

  • Hong Myung-bo

Sebelum era Park Ji-sung atau Son Heung-min, Korea Selatan sudah memiliki hero dalam diri Hong Myung-bo. Pemain yang biasa beroperasi di jantung pertahanan ini kerap tampil elegan di lini pertahana  layaknya Paolo Maldini di Timnas Italia.

Hong sempat tampil di tiga Piala Dunia dan momen termanisnya yakni kala mengantarkan Taeguk Warriors melaju ke fase semifinal Piala Dunia 2002. Meski dibumbui sederet kontroversi, catatan tersebut sudah barang tentu tak bisa dipandang sebelah mata. Hong juga mencatatkan rekor sebagai penampil terbanyak di Timnas dengan 136 caps.

  • Saeed Al-Owaira

Sama seperti Majeed Abdullah, Saeed Al-Owairan merupakan one man club. 13 tahun karir profesionalnya hanya dihabiskan di satu klub yakni Al Shabab. Pemain yang biasa beroperasi sebagai midfielder dan striker mampu mengepak 588 penampilan d level klub dan mencetak 238 gol di berbagai kompetisi.

Ia termasuk dalam gerbong Arab Saudi kala mentas di Piala Dunia 1994. Aksinya yang paling diingat yakni kala mencatatkan gol solo run di turnamen tersebut dalam laga kontra Belgia di fase grup. Bahkan gol tersebut terpilih sebagai terbaik keenam dalam FIFA’S Goal of the Century. Setelah Piala Dunia 1994, ia sempat tampil sebentar di Piala Dunia 1998.

  • Mark Viduka

Seperti Tim Cahill, nama Mark Viduka dan Premier League sudah sangat melekat. Penyerang asal Australia menjadi bagian penting dalam tubuh Leeds United di awal millennium. Ia menjadi juru gedor yang amat menakutkan bagi the Whites kala itu.

Viduka juga sempat mengantarkan Australia lolos ke Piala Dunia 2006. Setelah capaian manis tersebut, ia memutuskan mundur dari Socceros pasca Piala Dunia tersebut.

  • Shinsuke Nakamura

Nama Nakamura mulai dikenal kala hengkang ke Reginna di musim 2002/03 lalu.  Namun, reputasinya banyak terdengar kala merumput bersama Glasgow Celtic di Scottish Premiership. Ia memiliki senjata adalan dalam wujud free kick yang terbilang mematikan.

Bersama the Bhoys, Nakamura mampu mendulang tiga gelar Liga Skotlandia, satu piala FA Skotlandia dan sepasang piala Liga. Bersama Timnas Jepang, ia mampu mempersembahkan sepasang Piala Asia di tahun 2000 dan 2004.

  1. Shinji Kagawa

Shinji Kagawa datang ke Manchester United dengan status bintang di Borussia Dortmund. Bersama die Borussen, ia sukses mencatatkan sepasang gelar Bundesliga dan sepasang DFB-Pokal. Di United, ia hadir pada era kepemimpinan terakhir Sir Alex Ferguson dan mampu mengunci satu gelar Premier League pada musim debutnya.

Namun di era David Moyes, Kagawa seperti kehilangan arah. Ia tak menemukan posisi yang cocok untuk bermain sehingga namanya hanya sebentar beredar di United. Setelahnya sang pemain melalangbuana ke berbagai klub hingga berhenti di PAOK.

Bersama Timnas Jepang, ia sempat mendulang AFC Cup pada 2011 lalu dan belum memberikan prestasi lagi kepada Negeri Samurai Biru. Pemilihan karir di PAOK secara tak langsung membuat Kagawa memiliki kesempatan untuk tampil kembali bersama Timnas Jepang setelah sekian lama absen.

Update selalu berita sepakbola dari berbagai penjuru dunia cuma di Ligacacing.net

Leave a Reply